Home > Bisnis ala Nabi > Mempermudah Timbangan

Mempermudah Timbangan

Bayangkan saat ini anda adalah seorang konsumen/pembeli yg sedang berbelanja. Anda sedang belanja di pasar yg semua barangnya tidak dikemas secara khusus sebagaimana layaknya supermarket. Ketika belanjaan sedang ditimbang, apa yg anda pikirkan, jangan sampai kurang atau malah minta dilebihkan? Pada dasarnya kedua pilihan tadi cenderung sama. Yaitu, tidak mau dirugikan atau malah minta lebih.

Sekarang, bayangkan anda dalam posisi pedagang, masih di pasar yang sama. Ketika menimbang untuk pembeli, apa yg anda pikirkan, jangan sampai kelebihan atau bahkan kalau bisa dikurangi? Ya, kedua pilihan ini kebalikan paragraf diatas namun kecenderungannya sama, yaitu tidak mau dirugikan.

Demikian kira-kira fenomena yang lazim ditemui di pasar-pasar sekitar kita. Semua pemikiran tadi make sense dan wajar untuk pemikiran manusia kebanyakan, bukan manusia rabbani. Kenapa harus rabbani? Akan dibahas kemudian.

Sebenarnya ada pilihan lain ketika kita pada posisi baik pedagang atau pembeli, yaitu memudahkan urusan saudaranya. Secara sadar kita tidak perlu meminta lebih dalam posisi sebagai pembeli. Juga tak perlu mengurangi ketika pada posisi pedagang, syukur-syukur memberikan lebih. Lho kok, apa gak rugi? Jawabannya kembalikan pada hati nurani, bukan semata analisis arus kas.

Dalam sebuah riwayat,


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولِ اللّهِ صلى الله عليه وسلم: «مَنْ نَفّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدّنْيَا, نَفّسَ اللّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ. وَمَنْ يَسّرَ عَلَىَ مُعْسِرٍ, يَسّرَ اللّهُ عَلَيْهِ فِي الدّنْيَا وَالاَخِرَةِ. وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً, سَتَرَهُ اللّهُ فِي الدّنْيَا وَالاَخِرَةِ. وَاللّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ. وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقاً يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْماً, سَهّلَ اللّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقاً إِلَىَ الْجَنّةِ. وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللّهِ, يَتْلُونَ كِتَابَ اللّهِ, وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ, إِلاّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السّكِينَةُ, وَغَشِيَتْهُمُ الرّحْمَةُ وَحَفّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ, وَذَكَرَهُمُ اللّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ. وَمَنْ أَبَطأَ بِهِ عَمَلُهُ, لَمْ يُسْـرِعْ بِهِ نَسَبُهُ»

Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW, bersabda: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya. Siapa saja yang menempuh suatu jalan guna mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Dan tidaklah suatu kaum (kelompok) berkumpul di salah satu rumah Allah sembari membaca kitabullah dan mengkajinya di antara sesama mereka melainkan ketenangan akan turun di tengah mereka, rahmat meliputi mereka dan malaikat mengelilingi mereka serta Allah akan menyebut mereke di sisi para malaikat. Siapa saja yang menjadi lamban karena amalnya (sehingga amal shalihnya menjadi kurang) maka tidak cukup baginya hanya (bermodalkan) nasab”. (HR. Muslim, lihat juga Kumpulan Hadits Arba’in An Nawawi hadits ke 36).. Ini berlaku di smua sisi kehidupan, termasuk ketika jual beli seperti dalam dua paragraf pertama di atas.

Berikutnya, mari buka dan renungkan ayat alquran dalam surat Al Muthaffifiin 1-3:

[1] Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang [2] (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi [3] dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. (QS.Al Muthaffifiin: 1-3)

Bandingkan dengan perilaku pedagang dan pembeli di awal tulisan ini. Inilah kecenderungan manusia, minta lebih dan tidak mau dicurangi. Sayangnya, yang demikian ini adalah golongan yang dibendi oleh Allah.

Lantas bagaimanakah sebaiknya?

Dalam posisi pedagang, melebihkan timbangan tentu akan digemari pembeli. Siapapun akan mencarinya. Karena si pembeli merasa tidak dirugikan. Dengan melebihkan walau hanya 10 gram, akan berefek mendatangkan pembeli dan menarik pembeli loyal. Sungguh sebuah keuntungan tak ada tanding daripada sekadar hitungan arus kas. Demikianlah muamalah yang diridhai Allah. Tidak minta dilebihkan atau tidak berbuat curang. Dan di akhirat insyaallah semua urusan akan allah mudahkan.

Demikianlah kira-kira profil manusia rabbani, bauk ketika dia menjadi pedagang atau pembeli. Pun juga dalam semua muamalah yang berurusan dengan orang lain.

Saat ini, mungkin sangat jarang ditemui pedagang yang hobi melebihkan timbangan. Secara tidak langsung ini adalah efek kapitalisme global dengan jargonnya prinsip ekonomi. Namun jika masih ditemukan yang demikian ya alhamdulillah.  Allah masih menjaga hambaNya yang senang memudahkan urusan saudaranya.

tiga hari yang lalu aku belanja daging ke pasar. Ketika pulang, di gerbang pasar duduklah pedagang jeruk.

Saya tanya, “how much one?”

Dia pun menjawab, “twenty”.

“Ok, i want two hundreds and i will get ten pcs”, aku meminta padanya.

Tanpa aku pedulikan, dia memasukkan jeruk ke dalam kantong kresek dan di hitungan terakhir entah dia bilang apa aku tak tahu. Aku pikir “uda pas ya”, gitu katanya. Soalnya dia ngomong menggunakan bahasa Hausa.

Setiba dirumah aku sengaja menghitung, kalau satu jeruk harganya 20 maka sepuluh jeruk harga 200. Setelah kuhitung ternyata jumlahnya 12. Aku langsung ingat kalimat terakhir pedagang itu, mungkin maksudnya begini, “aku tambahin dua ya”. Mungkin begitu si pedagang itu. Ketika seorang pembeli tidak menawaran maka dia pun ngasih bonus. Ya, sebagai pembeli sering kali kita gak puas kalau tak menawar. Menawar sah-sah saja, tapi menawar yang keterlaluan jangan-jangan bisa termasuk golongan almuthaffifin.

Ya, mari kita lebih berhati-hati dalam muamalah. Dengan tujuan agar tidak masuk dalam golongan almuthaffifin yang di kutuk Allah.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: