Home > Perilaku Manusia > Siapa yang Gak Mau Kaya (mendadak)?

Siapa yang Gak Mau Kaya (mendadak)?

Tulisan ini terinspirasi dari satu tulisan di blog saya yang ramai direspon, hati-hati dengan program kaya mendadak. Siapa sih yang gak mau kaya dan mendadak? Di sini ada dua kata yang bisa ditelusuri lebih jauh, yaitu kaya dan mendadak.

Sebenarnya apakah definisi kaya itu? Tidak ada yang bisa memberi batasan mutlak kondisi seseorang dikatakan kaya. Bagi orang yang kerjannya ngukur jalan (baca:tak punya kendaraan), melihat orang punya sepeda motor sebagai profil orang kaya.

Demikian pula pengendara motor, memandang kaya pengendara mobil (bukan angkot atau bis lho ya). Pemilik carry tahun 1995 memandang kaya pemilik mercedes slk. Pemilik rumah tipe 54 memandang kaya pemilik rumah tipe 100. Begitulah kalau sesuatu yang abstrak dinilai dengan yang abstrak pula, jadilah membingungkan.

Memandang indah harta benda duniawi memanglah nikmat dan bisa melenakan. Ini sebuah fitrah, Al Quran surat Ali Imran: 114

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak [l86] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

Dan harus kita pahami juga bahwa kekayaan sebanyak apapun tidak bisa untuk menebus dosa. Lantas harus bagaimana seharusnya? Nabi Muhammad SAW memberikan guidance bahwa orang kaya adalah yang kaya jiwanya.

Untuk mendidik jiwa kita agar tidak tamak terhadap harta benda duniawi, islam mengajarkan umatnya agar rajin mengeluarkan zakat, infaq, dan sodaqoh (ZIS). Sebab ketiga hal tersebut bisa membersihkan harta dan membuat cukup harta kita.

Selain mengeluarkan harta dalam bentuk ZIS, sikap zuhud juga perlu dibangun sedini mungkin. Zuhud bukan berpenampilan seperti orang miskin papa tetapi lebih kepada bagaimana hati memandang setiap harta benda duniawi. Hal ini bisa kita perhatikan teladan nabi Muhammad saw dan para sahabatnya. Kuda perang nabi adalah yang terbaik, Umar ibn Khatthab tiduran dibawah pohon beralaskan pelepah kurma, Abdurrahman ibn ‘Auf hartanya puluhan ribu dinar tetapi tak pernah sayang untuk diinfakkan. Begitulah seharusnya memandang glamonya dunia. Semua itu tidak lebih berharga dari sayap nyamuk.

Berapapun harta yang dimiliki kalau tidak menggunakan ajaran nabi dalam menyikapinya maka hati selalu merasa kurang. Nabi pernah bersabda yang artinya, seandainya manusia diberi emas sebesar gunung uhud maka dia akan minta gunung emas kedua. Oleh karenanya, ingatlah dan camkan dalam hati sohib, jangan sampai terkena penyakit wahn. Apa itu? Hubbud dunya wa karohiyatul maut, cinta dunia dan takut mati. Hartanya dimakan sendiri dan tak pernah berinfak fii sabilillah yang bisa menjadi tabungan akhirat. Fa tazawwaduu fa inna khaira zaadit taqwa, sebaik2 bekal adalah taqwa, QS. AlBaqoroh:197.

Bagaimana biar bisa kaya dan masuk surga?

Islam tidak melarang seseorang menjadi kaya. Allahpun mencintai hambanya yang kaya atau kuat hartanya. Namun ada rambu2 yang harus diikuti agar tujuan2 mulia itu bisa terwujud. Berikut adalah beberpa tipsnya:

1. Jangan mudah terpedaya atau tergoda untuk ikut dalam jaringan program kaya mendadak. Yang ada membuat kaya si pemilik program. Apalagi kalau hanya mengandalkan seberapa banyak pendaftar tanpa ada brang yang dijual. Ini semua ilusi.

2. Buatlah usaha riil karena inilah yang lebih sesuai dengan prinsip islam karena usaha di sekto riil akan menggerakkan roda perokonomian umat.

3. Contoh bagaimana Abdurrahman ibn ‘Auf bisa mengumpulkan banyak harta dan menjadi manusia superkaya tapi juga bisa masuk surga.

4. Setelah benar2 kaya, jangan mau masuk surga dengan merangkak karena semaik banyak harta semakin banyak pula daftar pertanyaan di akhirat nanti. Abdurrahman ibn auf mendengar teguran ini, beliau langsung menfinfakkan semua kafilag dagangnya ketika satu saat masuk madinah ke baitul maal. Tidak ragu sedikit pun.

5. Jangan lupakan ayat ini, qs asy syura 20…

6. Terakhir, berdoalah juga agar ketika sudah kaya atau super kaya agar tetap tawadhu. Jangan sampai seperti tsa’labah QS.AtTaubah 75. Agar bisa mencontoh nabi saw dan Abdurrahman ibn ‘Auf dalam mengelola harta.

  1. May 30, 2011 at 3:29 pm

    Nice article..

  2. June 1, 2011 at 11:03 pm

    Good read, I’ll bookmark you

  3. June 2, 2011 at 10:28 am

    I appreciate to be informed of some amazing idea about this post. So pleased that you have shared this one here. Thanks so much for this updates.

  4. June 2, 2011 at 5:49 pm

    Very Interesting post. I like it. Keep it up.

  5. August 10, 2011 at 2:24 pm

    makasih gan… infonya… mudah-mudahan bermanfaat buat kita semua

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: